
JEMBER, www.jembertoday.net – Publik Jember melihat disharmoni hubungan Bupati dengan Wakil Bupati. Bahkan kerenggangan hubungan mereka telah masuk ke ranah hukum, pada tingkat persidangan di pengadilan.
Bupati Jember Muhammad Fawait atau Gus Fawait berkomentar atas disharmoni itu saat silaturahmi dan sekaligus berbuka puasa dengan ratusan tokoh muda, ormas, tokoh agama dan organisasi kepemudaan di Pendopo Wahyawibawagraha, Sabtu, (7/3/2026).
Baca juga: Realisasi Belanja TKD Jember Baru 24 Persen per 28 Februari 2026
Ia tidak menampik fakta, bahwa hubungannya dengan Djoko Susanto saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tetapi Gus Fawait tidak mau terjebak pada masalah itu. Ada hal yang lebih penting yang harus ia kerjakan daripada membuang energi untuk menyelesaikannya.
“Itu hal yang wajar, yang nggak boleh kalau pak Sekda ikut-ikutan, kepala OPD ikut-ikutan. Kenapa, karena bukan manusia politik,” kata Gus Fawait bersemangat di hadapan para tokoh muda saat itu.

Bupati dan Wakil Bupati adalah jabatan politik. Siapa pun orangnya didorong, dikendalikan dan berorientasi pada politik. Tetapi di saat bersamaan mereka adalah pelayan masyarakat, pengabdi pada kepentingan rakyat. Menyatukan dua kepentingan inilah seni dalam menduduki jabatan itu.
Gus Fawait lebih mengutamakan kepentingan rakyat, dalam hal ini pelayanan kepada masyarakat Jember, daripada menyelesaikannya.
“Yang penting bagi saya, apapun dinamika itu tidak mengganggu pelayanan publik,” tegas Gus Fawait.
Selain itu dinamika politik itu juga tidak boleh mengganggu sasaran-sasaran pada target RPJMD yang sudah tertuang dalam Perda Kabupaten Jember, katanya lagi.
Gus Fawait mempunyai pengalaman 2 periode di DPRD Provinsi Jawa Timur. Ia paham suasana dan dinamika politik di sana. Dengan pengalaman itu ia mengambil sikap adem atas disharmoni hubungannya dengan Djoko Susanto, Wakil Bupati Jember.
Sebelum terjun ke dunia politik, saat ia masih kuliah, Gus Fawait aktif di pergerakan mahasiswa. Baginya perbedaan pendapat dan pandangan itu hal biasa.
Gus Fawait juga menyebutkan situasi yang sama, disharmoni, di kabupaten kota lain juga terjadi.
“Yang penting target-target pelayanan publik tidak terpengaruh sama sekali dengan dinamika politik tersebut,” katanya sedikit kalem.
Baca juga: Di Pura Wira Satya Dharma Yonif 509/BY Kostrad Umat Hindu Jember Rayakan Piodalan
Dengan rendah hati ia meminta doa kepada para hadirin, juga kepada seluruh masyarakat Jember, agar masalah disharmoni hubungannya dengan Djoko Susanto segera selesai.
“Doakan, mudah-mudahan dinamika politik ini ke depan lebih baik lagi. Karena itu saya memilih diam saja,” ungkap Gus Fawait dengan tulus.
Sebagai manusia biasa, sebenarnya ia juga merasa terluka atas kejadian itu. Tetapi ia lebih memilih terus bersholawat. Ia yakin dengan bersholawat sambil berdoa masalahnya akan selesai dengan baik. Slogan Ojo Lali Moco Sholawat itulah yang terus ia usung hingga saat ini. (Sgt)






