JEMBER, www.jembertoday.net – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Jember meluncurkan aplikasi layanan terbaru untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Aplikasi layanan itu bernama Cinta Riset (Center Informasi dan Tata Kelola Riset).
Aplikasi Cinta Riset merupakan pengembangan dari aplikasi sebelumnya, J-Krep, yang dikerjakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember.
Baca juga: Jawa Timur Bersinar, Bakesbangpol Jember Perkuat Komitmen Bersih Narkoba
Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik, Syamsu Rijal, memaparkan layanan Cinta Riset kepada tokoh agama, Badan Eksekutif Mahasiswa, dan masyarakat, Jumat malam (7/8/2026).
Menurut Syamsu, beberapa kelebihannya adalah registrasi, proses permintaan data serta perijinan berlangsung dalam hitungan menit saja. Layanan Cinta Riset menjadi jawaban dari kebutuhan warga dalam memperoleh informasi dan perijinan, khususnya di kalangan akademisi, ormas, partai politik dan warga. Aplikasi bisa diunggah di alamat www.cintariset.jemberkab.go.id mulai Senin 10 Agustus 2026.
Sementara itu, Kepala Bakesbangol, Lingga Diputra menyebutkan, peluncuran Cinta Riset merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan pelayanan publik yang cepat, transparan, mudah diakses, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi.
Usai seremonial dilanjutkan dengan diskusi publik tokoh agama dan akademisi dengan menghadirkan narasumber yang kompeten.Narasumber pertama, seorang akademisi UNEJ, Prof. Agus Trihartono, S.Sos., ME.,Ph.D. Narasumber kedua anggota TP3D yang baru saja dilantik menjadi anggota Dewan Pengawas Perumdam Tirta Pandalungan, Dr. Evi Lestari, SE.,M.Si. Narasumber ketiga, Ketua FKUB Jember, Prof Dr KH. Abdul Muis Sonhaji, S.Ag., M.Si.

Suasana Diskusi
Prof Agus Trihartono memaparkan awal proses terbentuknya suatu peradaban manusia. Ia memberi contoh peradaban warga Jember, bahwa bisa dilihat dari sungai Bedadung.
Perkembangan jaman saat ini membawa pada tingkat teknologi AI (Artificial Intelligence). Tetapi AI memiliki kelemahan yaitu tidak punya humanity, wisdom, sense dan value. Bahkan AI bergerak melebihi kecerdasan manusia.
Saat ini orang pintar bukanlah sesuatu yang penting, sebab bisa diganti oleh AI. Di masa depan yang dibutuhkan adalah orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan, paham AI dan kuat dalam kebijaksanaan atau mempunyai nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai itu adalah bagian dari agama.
Evi Lestari menjelaskan arah kebijakan Bupati Jember Gus Fawait, yang mengajak para mahasiswa untuk ikut terlibat dalam pembangunan daerah. Hal itu terwujud konkret dalam program KKN Kolaboratif.
Para mahasiswa KKN 2026 diminta mendata ulang (verifikasi Validasi), verval, kepada warga miskin yang berada di posisi desil 2. Data itu penting bagi arah kebijakan Pemkab Jember ke depannya.
Sedangkan narasumber ketiga, Muis Sonhaji, memaparkan bahwa perbedaan adalah dasar dari terbentuknya suatu kerukunan.
Ia mengingatkan bahwa saat ini masih ada potensi konflik yang bisa merusak kerukunan, sehingga berpotensi memecah NKRI. Solusinya adalah mereka yang intoleran harus diajak berdialog, duduk bersama dengan lintas elemen masyarakat dan pemerintah agar tercapai pemahaman yang sama demi kesatuan dan persatuan bangsa.
(Sgt)
