JEMBER, www.jembertoday.net – BPS Kabupaten Jember merilis inflasi Bulan Agustus 2024 pada 2 September. Inflasi MtM (Month to Month) pada angka -0,08 persen atau deflasi 0,08 persen.
Secara umum, dari 11 kabupaten kota/kabupaten di Jawa Timur yang dirilis oleh BPS, hampir semua pada kondisi deflasi. Hanya 2 yang inflasi, Kabupaten Gresik 0,01 persen dan Kota Malang 0,04 persen pada bulan Agustus 2024. Delapan kabupaten/kota mengalami deflasi 0,08 sampai 0,23 persen. Artinya, kondisi perekonomiannya hampir sama sedang lesu. Jika dibuat rata-rata pada bulan yang sama, Agustus 2024, Jawa Timur mengalami deflasi 0,07 persen Secara nasional pun juga mengalami hal yang sama, inflasi pada angka -0,03 persen atau deflasi 0,03 persen.
Secara tahunan atau year on year (yoy) inflasi Kabupaten Jember sebesar 1,83 persen. Sedangkan Jawa Timur sebesar 2.05 persen dan secara nasional sebesar 2,12 persen.
Baca Juga : Terjadi Persamaan Persepsi Antara BPS dengan SLS di Kelurahan Antirogo
Dari catatan media ini dari Bulan Januari hingga Agustus tercatat Kabupaten Jember mengalami 5 kali deflasi, yakni Januari, Mei, Juni, Juli dan Agustus.
Kepala BPS Kabupaten Jember mengingatkan pemerintah agar mewaspadai kecenderungan ini.
Kepada awak media Kepala BPS Kabupaten Jember Tri Erwandi mengatakan, “Betul juga, kalau terus-terusan deflasi jangan-jangan daya beli masyarakat turun. Ini perlu diwaspadai.” Senin, (2/9/2024).
Menurut Tri, yang bagus itu selisih inflasi dengan pertumbuhan ekonominya agak jauh sebab inflasi dihitung berdasarkan index kenaikan harga konsumen. Ia mencontohkan inflasi yang kurang bagus ketika masa pandemi covid-19 di mana inflasi jauh lebih tinggi dari angka pertumbuhan ekonomi. Akibatnya masyarakat tidak mampu menjangkau.
Baca Juga : Pemkab Jember Lindungi Keselamatan Kerja 833 Pedagang Keliling dengan Asuransi BPJS TK
Tri mengingatkan juga bahwa pertumbuhan ekonomi berdasarkan harga di level produsen sedangkan inflasi berdasarkan harga konsumen.
“Jadi kalau harga konsumen itu harga di pasar itu kaitannya dengan daya beli masyarakat,” pungkas Tri.
Sedangkan komoditi penyumbang deflasi, lima terbesar adalah bawang merah -15,72 andil -0,05 persen, jagung manis -14,01 andil -0,04 persen , telur ayam ras -3,08 andil. -0,03 persen cabe merah -18,22 andil -0,03 dan tomat -18,23 dengan andil -0,03 persen. (Sgt)